Office
Graha Surveyor Indonesia 16th Floor
Jl.jend.Gatot Subroto Kav. 56
Jakarta 12950 - Indonesia
phone. (6221) 5265188 - 89
Fax. (6221) 5265190
admin@jmtlawhouse.com
jmtlawhouse.com

Rupiah Melemah, IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

 

Liputan6.com, Jakarta – Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat terbatas pada perdagangan saham Rabu (3/10/2018).

Pelemahan mata uang rupiah masih menjadi sentimen negatif yang menahan IHSG melaju hijau. Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, mengatakan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat IHSG terbilang sulit untuk menembus ke level 6.000. Oleh karena itu, ia prediksi IHSG berpotensi menguat terbatas di rentang 5.800-5.950.

“Terganggu sama dolar AS. Tapi untuk saham-sahamnya jadi bisa diakumulasi lagi. Sama seperti buy on weakness, intinya dikoleksi,” tutur dia kepada Liputan6.com, Rabu pekan ini.

William menambahkan, anjloknya mata uang garuda itu berdampak khusus pada laju IHSG sepekan. “Saya memprediksi tampaknya sulit ya untuk IHSG tembus ke level 6.000 seminggu ini,” ujar dia.

Sementara itu, Analis PT Reliance Sekuritas, Lanjar Nafi, menuturkan IHSG masih cenderung tertekan. IHSG akan bergerak di kisaran 5.820-5.920.

“Secara teknikal IHSG konfirmasi pola bearish harami dengan pulled back bearish trend line dengan break out moving average (MA) 50 harian dan menguji MA 20. Indikator stochastic terkonsolidasi negatif dengan bearish momentum RSI yang cenderung menekan terus ke area jenuh jual,” ujar dia dalam ulasannya.

Seiring pelemahan IHSG, William pun merekomendasikan lima saham yang cukup moncer. Saham-saham tersebut antara lain PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN), PT Panin Financial Tbk (PNLF), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) hingga PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD).

Sedangkan Lanjar memilih saham PT AKR Corporindo tbk (AKRA), PT Jafpa Comfeed Tbk (JPFA), dan PT PP Tbk (PTPP).

Karyawan memerhatikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Mandiri Sekuritas, Jakarta, Selasa (30/5). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum dapat beranjak dari zona merah pada perdagangan Selasa pekan ini. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke posisi 15.000 menekan IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Selasa 2 Oktober 2018, IHSG merosot 68,98 poin atau 1,16 persen ke posisi 5.875,61. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,38 persen ke posisi 928,97. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Sebanyak 283 saham melemah sehingga menekan IHSG. 123 saham diam di tempat dan 109 saham menguat. Pada penutupan Selasa pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 5.056,77 dan terendah 5.862,95.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 449.138 kali dengan volume perdagangan 11,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,9 triliun. Investor asing jual saham Rp 98,71 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran 15.011.

10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham industri dasar melemah 2,98 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Disusul sektor saham aneka industri susut 1,7 persen dan sektor saham manufaktur merosot 1,4 persen.

Saham-saham catatkan penguatan di tengah tekanan IHSG antara lain saham CITY melonjak 24,41 persen ke posisi Rp 316 per saham, saham SMDM menguat 24,06 persen ke posisi Rp 165 per saham, dan saham FAST menanjak 16,56 persen ke posisi Rp 1.900 per saham.

Sedangkan saham-saham tertekan antara lain saham INTD merosot 24,14 persen ke posisi Rp 220 per saham, saham SAFE tergelincir 20,83 persen ke posisi Rp 190 per saham, dan saham DNAR turun 14,29 persen ke posisi Rp 264 per saham.

Bursa saham Asia pun cenderung tertekan kecuali indeks saham Jepang Nikkei naik 0,10 persen. Sementara itu, indeks saham Hong Kong Hang Seng melemah 2,38 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi susut 1,25 persen.

Selanjutnya indeks saham Thailand tergelincir 0,68 persen, indeks saham Singapura merosot 0,39 persen dan indeks saham Taiwan turun 1,2 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, IHSG melemah didorong minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Ini ditambah dengan ada faktor pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sentuh 15.000.

“Ini karena pelaku pasar global menantikan petunjuk dari penyelenggaraa pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di Boston pada pukul 23.45 WIB terkait dengan rencana kenaikan suku bunga the Fed sebesar 25 basis poin pada Desember 2018,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, hal tersebut menjadi sentimen negatif bagi pelemahan IHSG.