Office
Graha Surveyor Indonesia 16th Floor
Jl.jend.Gatot Subroto Kav. 56
Jakarta 12950 - Indonesia
phone. (6221) 5265188 - 89
Fax. (6221) 5265190
admin@jmtlawhouse.com
jmtlawhouse.com

Uni Emirat Arab Beli Senjata Rp 6,9 Triliun dari Perusahaan AS

Liputan6.com, Abu Dhabi – Industri senjata Amerika Serikat (AS) akan mendapat guyuran dana sebesar hampir setengah miliar dari Uni Emirat Arab (UEA). Negara itu memang sedang gencar belanja perlengkapan militer.

Menurut CNBC, UEA menggelontorkan USD 1,35 miliar dana pertahanan atau setara Rp 19 triliun (USD 1 = Rp 14.107) pada ajang International Defence Exhibition and Conference (Pameran dan Konferense Pertahanan Internasional, IDEX) di Dubai, pada 17 Februari 2019 waktu setempat.

Dalam ajang itu, nyaris setengah uang UEA mengalir ke perusahaan-perusahaan asal Amerika. Sebut saja Raytheon, Lockheed Martin, dan Hesco yang masing-masing berhasil menjual senjata misil, sistem radar terbaru, dan shelter pertahanan untuk militer kepada UEA.

Total uang yang diraup perusahaan AS adalah sebesar USD 490 juta (Rp 6,9 triliun). Perusahaan asing lain yang turut meraup untung besar adalah Thales (Prancis), EOS Defense (Australia) dan Rheinmetall Electronics (Jerman) yang mendapat dana signifikan.

Ada 33 deal yang diumumkan hari Minggu itu, 18 bersama perusahaan domestik, lalu 15 dari perusahaan asing. Namun, total porsi dana ke perusahaan asing lebih besar, yakni mencapai USD 1,1 miliar (Rp 15,5 triliun).

Menurut laporan IHS Jane, Timur Tengah sedang menjadi primadona penjualan senjata. Anggaran belanja senjata naik dari USD 82,3 miliar (saat ini setara Rp 1.254 triliun) di tahun 2013 menjadi USD 103 miliar (Rp 1.453 triliun) di tahun ini.

Prediksi IHS Jane, belanja senjata akan mencapai USD 110,8 miliar (Rp 1.563 triliun) di tahun 2023. Belanja senjata ini dinilai karena terpengaruh kondisi regional yang tidak stabil.

Masih membahas industri senjata AS, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) ternyata juga dimanfaatkan untuk keperluan persenjataan perang dan militer.

Tentara Amerika Serikat (AS) salah satu yang akan menggunakannya. Dilansir Ubergizmo, kecerdasan buatan akan digunakan untuk ‘memapankan’ sistem persenjataan tentara AS.

Bruce Jette, asisten sekretaris tentara AS divisi Akuisisi, Logistik, dan Teknologi, mengungkap kecerdasan buatan ini nantinya akan memudahkan penggunaan senjata, dari yang tadinya manual ke terautomasi.

Ia justru meyakinkan masyarakat untuk tidak khawatir dengan pengaruh kecerdasan buatan ke persenjataan AS.

Pasalnya, kehadirannya tidak akan mendominasi, justru bakal membantu para tentara.

“Banyak orang khawatir apakah kecerdasan buatan mengontrol senjata secara keseluruhan. Padahal faktanya, kami membatasi bagian mana yang bisa dikuasai (oleh AI) dan bagian mana yang masih harus dilakukan oleh manusia,” kata Jette.

Rencana kecerdasan buatan diadopsi untuk militer sebelumnya sempat ditentang oleh beberapa perusahaan teknologi besar, Google salah satunya.

Dilansir blog Google, CEO Google Sundar Pichai menegaskan perusahaan yang dipimpinnya tidak akan mengejar fokus di dunia militer.