Office
Graha Surveyor Indonesia 16th Floor
Jl.jend.Gatot Subroto Kav. 56
Jakarta 12950 - Indonesia
phone. (6221) 5265188 - 89
Fax. (6221) 5265190
admin@jmtlawhouse.com
jmtlawhouse.com

Sebagian Besar Sektor Saham Menguat Bawa IHSG Menghijau

 

Liputan6.com, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau pada perdagangan saham hari ini. Rupiah kini pada posisi 14.335 per Dolar Amerika Serikat (AS).

Pada pembukaan perdagangan saham, Jumat (10/5/2019), IHSG menguat 16,8 atau 0,27 persen ke posisi 6.215,6. Adapun indeks saham LQ45 naik 0,37 persen ke posisi 975,35.

Sebanyak 112 saham menguat. Sementara 54 saham melemah dan 100 saham diam di tempat. Pada awal sesi, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.218,6 dan terendah 6.203,1.

Total frekuensi perdagangan saham 11.351 kali dengan volume perdagangan saham 1,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 287,2 miliar.

Investor asing jual saham Rp 22,05 miliar di total pasar. Posisi rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sebesar 14.335.

Sebagian besar sektor saham menguat, kecuali perkebunan yang turun 0,02 persen. Adapun yang menguat antara lain, saham infrastruktur 0,89 persen, saham konsumsi sebesar 0,64 persen. Kemudian saham pertambangan 0,45 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham POSA naik 69,33 persen ke posisi Rp 254 per saham, saham RMBA mendaki 13,59 persen ke posisi Rp 418 per saham, dan saham APEX menguat 24,18 persen ke posisi Rp 950 per saham.

Sementara itu, saham-saham yang melemah antara lain saham MINA turun 4,21 persen ke posisi Rp 1.025 per saham, saham BJBR tergelincir 3,71 persen ke posisi Rp 1.815 per saham, dan saham TRIM susut 3,42 persen ke posisi Rp 141 per saham.

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Aksi jual investor asing bebani laju IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (9/5/2019), IHSG merosot 71,39 poin atau 1,14 persen ke posisi 6.198,80. Posisi IHSG turun di bawah level 6.200, dan catatkan posisi terendah sejak Januari 2019. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,74 persen ke posisi 971,74. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah.

Sebanyak 304 saham merosot sehingga serat IHSG ke zona merah. 119 saham menguat dan 106 saham diam di tempat. Pada Kamis pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.259,62 dan terendah 6.195,38.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 481.585 kali dengan volume perdagangan saham 12,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 9,2 triliun. Investor asing jual saham Rp 1,55 triliun di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.350.

Sebagian besar sektor saham tertekan kecuali sektor saham barang konsumsi naik 0,61 persen. Sektor saham industri dasar melemah 2,93 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Disusul sektor saham aneka industri merosot 2,54 persen dan sektor saham konstruksi terpangkas 1,85 persen.

Saham-saham catatkan top gainer saat IHSG melemah antara lain saham MTPS menguat 24,79 persen ke posisi Rp 755 per saham, saham AMIN melonjak 21,21 persen ke posisi Rp 480 per saham, dan saham STTP mendaki 18,75 persen ke posisi Rp 3.800 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham KIOS merosot 23,70 persen ke posisi Rp 515 per saham, saham BIKA tergelincir 17,60 persen ke posisi Rp 206 per saham, dan saham TKIM terpangkas 15,49 persen ke posisi Rp 7.775 per saham.

Bursa saham Asia kompak tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng susut 2,39 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi susut 3,04 persen, dan catatkan penurunan terbesar.

Disusul indeks saham Jepang Nikke melemah 0,93 persen, indeks saham Thailand tergelincir 0,35 persen, indeks saham Shanghai merosot 1,48 persen, indeks saham Singapura susut 0,43 persen dan indeks saham Taiwan melemah 1,74 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, ada sejumlah sentimen eksternal dan internal menekan IHSG.

Dari eksternal, sentimen perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China masih kuat dan mempengaruhi perilaku para pelaku pasar global untuk bersikap wait and see.

“Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengamati opening remark yang akan disampaikan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell di Washington,” ujar Nafan, saat dihubungi Liputan6.com.

Sedangkan dari internal, Nafan menuturkan, para pelaku pasar masih membayangi terjadinya potensi defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2019 sehingga mempengaruhi perilaku investor untuk wait and see. “Selain itu, bulan ini berlaku adagium sell in may and go away,” ujar dia.