Office
Graha Surveyor Indonesia 16th Floor
Jl.jend.Gatot Subroto Kav. 56
Jakarta 12950 - Indonesia
phone. (6221) 5265188 - 89
Fax. (6221) 5265190
admin@jmtlawhouse.com
jmtlawhouse.com

Resmi IPO, Dewata Freight International Incar Dana Rp 45 Miliar

Liputan6.com, Jakarta Perusahaan logistik PT Dewata Freight International Tbk (DEAL) resmi menawarkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (9/11/2018). Pada pembukaan, saham emiten baru ini tercatat naik 104 poin atau 69,33 persen ke Rp 254.

Perseroan melepas sebanyak 300 juta lembar saham dengan perbandingan waran 5:1. Jumlah saham ini mewakili 26,69 persen modal yang ditempatkan sesudah IPO. Saham akan dijual Rp 150 per lembar dengan nominal Rp 100 per saham.

Perseroan menargetkan perolehan dana dari IPO sebesar Rp 45 miliar. Sebanyak Rp 16 miliar akan digunakan sebagai setoran modal di anak usaha PT Dewata Makmur Bersama sementara sisanya sebagai modal kerja perseroan.

“Perseroan meyakini dengan hasil tersebut akan memberikan kemampuan keuangan yang lebih kuat dan meningkatkan nilai ekonomi perseroan serta mendukung strategi pengembangan usaha yang lebih solid di masa mendatang,” ujar Direktur Utama Persereoan Bimada di BEI.

Dia menambahkan, perseroan berencana mengembangkan Independent Power Producer (IPP) berbasis gas di luar Jawa melalui anak usahanya.

PT Dewata Freight International Tbk merupakan perseroan ke-50 yang melantai di BEI tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangannya, perusahaan meraup pendapatan sebesar Rp 58,87 miliar dan laba tahun berjalan Rp 316 juta per 30 April 2018. (Felicia Margaretha)

Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menilai pencatatan saham perdana emiten yang mencapai 50 perusahaan merupakan hal tidak mudah. Hal itu terjadi di tengah kondisi pasar global yang gonjang-ganjing.

Ia menuturkan, pencatatan saham perdana PT Dewata FreightInternational Tbk mencatat sejarah sebagai emiten ke-50 yang tercatat di BEI pada 2018. Adapun sejarah terbesar kedua 47 emiten baru pada 1994 dan 37 emiten pada 2017.

“50 bukan angka mudah. Betul pernah tercatat 66 perusahaan dalam setahun di BEJ dulu, tapi itu karena adanya PAKTO (paket kebijakan oktober 1988-red),” ujar dia yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk lewat pesan singkat yang diterima Liputan6.com, Jumat (9/11/2018).

Tito mengatakan, hingga September kemarin Singapura baru 14 emiten baru, Vietnam 8 emiten, Malaysia 16 emiten, Thailand 7, dan Filipina hanya satu.

“Indonesia 50. Selama lima tahun terakhir emiten Indonesia growth dengan 24 persen dari 473 ke lebih dari 600. Bandingkan dengan Malaysia yang tidak growth atau stagnan di 910 emiten dan Singapura yang bahkan minus 4 persen jumlah emitennya,” ujar dia.

Namun, yang menjadi pertanyaan yaitu bagaimana ke depannya agar bursa efek bisa bekerja secara efisien mempersiapkan diri, mendistribusikan informasi pasar dan memastikan order transaksi bisa lebih terfasilitasi dan biaya transaksi bisa sangat efisien?

Tito menilai, BEI sewajarnya secara efektif mengembalikan dana yang diakumulasi kepada industri. “Pasar modal tidak akan menjadi penyebab suatu krisis tapi lebih imbasnya anak selalu naik lebih dahulu dari naiknya perekonomian dan turun tergerus mendahului krisis keuangan yang akan terjadi,” kata dia.

Ia yakin 66 emiten dapat terlampaui pada 2018. Ini jika efisiensi kerja bursa efek didukung oleh efektivitas transaksi dari BEI.