Office
Graha Surveyor Indonesia 16th Floor
Jl.jend.Gatot Subroto Kav. 56
Jakarta 12950 - Indonesia
phone. (6221) 5265188 - 89
Fax. (6221) 5265190
admin@jmtlawhouse.com
jmtlawhouse.com

Perusahaan Teknologi Ini Tawarkan Kemudahan Konektivitas

Liputan6.com, Jakarta – Perusahaan penyedia solusi teknologi finansial, Digiasia Bios resmi bekerja sama dengan Gluu yang merupakan aplikasi marketplace data seluler peer-to-peer terdesentralisasi pertama di dunia.

“Digiasia sangat senang bisa bekerja sama dengan Gluu, di mana Gluu adalah sebuah marketplace yang mempertemukan orang-orang yang memiliki kelebihan paket data dan orang-orang yang membutuhkan paket data dengan harga yang lebih murah dari yang ditawarkan operator”, ujar CEO Digiasia Bios Hermansjah Haryono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Gluu memungkinkan pengguna untuk mengetuk konektivitas melalui perangkat seluler pengguna lain atau hotspot tetap dari toko ritel, melalui jaringan aman dengan Gluu Secure Connect. Mata uang platform, Glits, dapat dibeli untuk mendapatkan konektivitas atau diperoleh dari berbagi data.

Pengguna bisa mendapatkan Glits ketika mereka membagikan kuota Internet mereka dan dapat bertukar Glits untuk produk atau layanan, seperti voucher Alfamart di toko Gluu. Ini memberikan insentif kepada pengguna untuk berbagi kuota Internet ekstra mereka.

Hermansjah menambahkan bahwa salah satu kerjasama dengan Gluu adalah dimana pengguna Gluu dapat menukarkan voucher Glits menjadi produk digital yang disediakan oleh KasPro dan kedepannya Gluu akan mempunyai fitur layanan uang elektronik dari KasPro.

“Founder kami, Alexander Rusli merupakan angle investor di Gluu dan sangat antusias untuk mengajak masyarakat untuk mencoba aplikasi Gluu. Agar masyarakat bisa langsung mendapatkan Glits dan mencoba aplikasi ini maka silahkan masukkan kode ALEX1G pada saat melakukan pendaftaran”, ujarnya.

“Kami yakin dengan hadirnya Gluu di Indonesia dapat memecahkan masalah konektivitas yang di Indonesia dengan mengizinkan siapa pun untuk menawarkan konektivitas mereka secara aman melalui aplikasi. Pengguna yang telah kehabisan pulsa Internet atau berada di tempat tanpa jangkauan data dapat bergantung pada komunitas Gluu untuk mendapatkan konektivitas yang instan dan aman”, tutupnya.

Ketua Umun Sementara Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Oscar Dermawan mengatakan, kehadiran teknologi blockchain memiliki potensi yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia. Pihaknya akan terus mensosialisasikan masyarakat dan pelaku usaha terkait teknologi blockchain dan revolusi industri 4.0, sehingga didapatkan pemahaman dan pemanfaatan yang optimal pada teknologi tersebut.

Secara definisi, blockchain adalah besaran digital yang terdesentralisasi, meliputi transaksi-transaksi, dan bekerja dengan data yang diatur melalui serangkaian catatan yang disebut blok. Sistem blockchain juga diklaim memiliki proteksi yang tinggi.

“Kami menyadari Indonesia masih banyak kesalahpahaman di bidang blockchain. Memberikan edukasi lebih baik sebagai mitra kerja sama pemerintah dan swasta dengan tujuan teknologi ini berkembang. Sehingga teknologi ini dapat menyetarakan dengan lainnya,” kata Oscar saat Konferensi Pers Peluncuran ABI, di Blockchain Space, Wisma Barito Pasific, Jakarta Barat, Rabu, (21/3).

Oscar menjelaskan, ABI didirikan oleh enam perusahaan blockchain terpercaya di Indonesia. Perusahaan tersebut yakni, Blocktech Indonesia, Blockchain Zoo, INODAX, Indonesia Blockchain Network, Luno, dan Pundi X.

Keterlibatan keenam anggota perusahaan tersebut, lanjutnya telah memiliki visi yang sama, yakni bertujuan untuk mempermudah akselerasi adopsi teknologi blockchain dalam era industri 4.0, melalui integrasi, kalaborasi dan pertukaran pengetahuan.

“Sebagai founder, kami memiliki visi yang sama untuk mengembangkan teknologi dan ekosistemnya di Indonesia. Melalui ini kami mengajak menggambil momentum agar mendapatkan manfaat yang maksimal. Indonesia masih banyak perusahaan blockchain mulai aktif di bidang ini,” ujar Oscar.

Dia menambahkan, sebagai mitra pemerintah, pendirian ABI juga bertujuan untuk menghimpun pelaku industri agar menjadi mitra pemerintah yang berkemampuan dalam merumuskan kebijakan. Kebijakan tersebut, diperlukan untuk kemajuan ekosistem teknologi blockchain.

“Untuk itu, Asosiasi Blockchain Indonesia berkomitmen untuk menjalin kerja sama erat dengan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun non-pemerintah. Tapi tidak terbatas kepada Kementerian Perindustrian, Kementerjan Perdagangan, Badan Ekonomi Kreatif, BI, OJK, PPATK, dan Asosiasi Fintech Indonesia,” tandas Oscar.