Office
Graha Surveyor Indonesia 16th Floor
Jl.jend.Gatot Subroto Kav. 56
Jakarta 12950 - Indonesia
phone. (6221) 5265188 - 89
Fax. (6221) 5265190
admin@jmtlawhouse.com
jmtlawhouse.com

Ekonomi AS Tumbuh, Rupiah Tertekan ke 14.197 per Dolar AS

 

Liputan6.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat ini.

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/9/2019), rupiah dibuka di angka 14.188 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.165 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.188 per dolar AS hingga 14.197 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih menguat 1,38 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.197 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.162 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan melemah pasca rilis data pertumbuhan ekonomi AS.

“Perkembangan ekonomi AS masih terlihat solid dan belum menunjukkan potensi resesi yang kuat,” kata ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih dikutip dari Antara.

Pengumuman ke-3 angka pertumbuhan ekonomi AS untuk triwulan II 2019 tercatat 2 persen (yoy), tidak berubah dari pengumuman ke-2 sebelumnya, namun melambat dibandingkan triwulan I 2019 yang tercatat 3,1 persen (yoy).

Perlambatan tersebut karena turunnya belanja konsumsi personal (personal consumption expenditure) dan ekspor.

Lana memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 14.150 per dolar AS hingga 14.180 per dolar AS.

“Pagi ini mata uang kuat Asia dolar Hong Kong dan dolar Singapura dibuka melemah terhadap dolar AS, yang bisa menjadi sentimen pelemahan rupiah, tetapi kemungkinan rupiah justru akan menguat secara teknikal karena sudah melemah tiga hari berturut-turut,” kata Lana.

Teller menunjukkan mata uang dolar di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (10/1). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah berada di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Sebelumnya, pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan melemah pada tahun depan. Hal tersebut terjadi karena adanya gejolak ekonomi dunia.

Dalam pidato Nota Keuangan di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (16/8/2019), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa target ekonomi masih akan tinggi, tetapi untuk nilai tukar rupiah akan melemah.

Ia menyebut target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 adalah 5,3 persen. Sumber pertumbuhan ekonomi tahun depan ditekankan pada sektor konsumsi.

“Pertumbuhan ekonomi akan berada pada tingkat 5,3 persen dengan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya. Inflasi akan tetap dijaga rendah pada tingkat 3,1 persen untuk mendukung daya beli masyarakat,” ujar dia.

Jokowi menyebut nilai tukar rupiah akan melemah menuju 14.400 per dolar AS. Ia menyebut hal itu diakibatkan kondisi ekonomi global yang volatile alias penuh ketidakpastian.

Meski sedang ada disrupsi dagang, Jokowi yakin Indonesia akan tetap menjadi primadona investasi. Pasalnya, Indonesia memiliki telah mendapatkan citra positif dan iklim investasi akan terus dijaga.

“Pemerintah yakin investasi terus mengalir ke dalam negeri, karena persepsi positif atas Indonesia dan perbaikan iklim investasi,” ujar Jokowi.